Pekerjaan sering kali tidak berhenti ketika jam kantor selesai. Pesan masuk, email, pekerjaan yang belum selesai, hingga keinginan untuk menyelesaikan satu tugas lagi bisa membuat waktu bersama keluarga atau untuk diri sendiri ikut terambil.
Lalu, bagaimana cara membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi? Kuncinya bukan membuat semua aktivitas mendapat waktu yang sama, melainkan menentukan prioritas, membuat batas yang jelas, dan menggunakan waktu secara lebih sadar.
Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance berkaitan dengan kemampuan seseorang menjalankan pekerjaan sekaligus tetap memiliki waktu untuk keluarga, hubungan sosial, istirahat, dan aktivitas pribadi. OECD menempatkan keseimbangan tersebut sebagai salah satu bagian penting dari kesejahteraan.
Jangan Berusaha Membagi Waktu Secara Sama Rata
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap work-life balance berarti membagi 24 jam secara sama antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Padahal, kebutuhan setiap orang berbeda. Ada masa ketika pekerjaan memang membutuhkan perhatian lebih besar. Di waktu lain, keluarga, kesehatan, atau kebutuhan pribadi bisa menjadi prioritas.
Karena itu, tujuan utamanya bukan membagi waktu dengan ukuran yang selalu sama, tetapi memastikan pekerjaan tidak terus-menerus mengambil ruang yang seharusnya digunakan untuk kehidupan di luar pekerjaan.
1. Tentukan Jam Kerja dan Jam Pribadi
Mulailah dengan menentukan kapan pekerjaan dimulai dan kapan harus berhenti.
Jika bekerja di kantor, batasnya mungkin lebih mudah karena ada jam masuk dan pulang. Namun, bagi pekerja jarak jauh atau orang yang membawa pekerjaan ke rumah, batas tersebut bisa menjadi lebih kabur.
Tentukan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, kemudian usahakan tidak memeriksa email atau pesan kerja setelah waktu tersebut kecuali memang ada keadaan yang mendesak.
Batas seperti ini membantu otak mengenali bahwa pekerjaan sudah selesai dan waktunya beralih ke aktivitas lain.
APA juga menekankan pentingnya batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta kesepakatan mengenai kapan komunikasi pekerjaan diperlukan.
2. Tentukan Prioritas, Bukan Sekadar Membuat Daftar Tugas
Daftar pekerjaan yang panjang belum tentu membuat seseorang lebih produktif.
Daripada mencoba menyelesaikan semuanya sekaligus, tentukan beberapa tugas yang benar-benar penting pada hari tersebut.
Misalnya:
satu tugas yang harus selesai hari ini;
dua tugas penting yang sebaiknya diselesaikan;
pekerjaan lain yang masih bisa dilakukan besok.
Cara ini membantu mencegah pekerjaan kecil mengambil seluruh waktu yang tersedia.
Jika semua tugas dianggap mendesak, akhirnya tidak ada batas yang jelas kapan pekerjaan harus berhenti.
Untuk memahami cara menentukan tugas yang benar-benar penting, baca juga artikel 👉Cara menentukan Prioritas Pekerjaan Agar Lebih Produktif
3. Sisakan Waktu untuk Keluarga dan Diri Sendiri
Waktu pribadi jangan hanya digunakan ketika semua pekerjaan sudah selesai.
Jika menunggu pekerjaan benar-benar habis, kemungkinan besar waktu untuk keluarga, olahraga, hobi, atau sekadar beristirahat akan selalu berada di urutan terakhir.
Masukkan kegiatan pribadi ke dalam jadwal seperti halnya memasukkan pekerjaan.
Contohnya, tentukan waktu untuk makan malam bersama keluarga, berjalan kaki, membaca, berolahraga, atau sekadar beristirahat tanpa membuka pekerjaan.
Dengan begitu, waktu pribadi tidak dianggap sebagai sisa waktu setelah pekerjaan selesai.
4. Buat Batas antara Tempat Kerja dan Tempat Istirahat
Hal ini semakin penting bagi orang yang bekerja dari rumah.
Ketika meja kerja berada di ruang yang sama dengan tempat bersantai, seseorang bisa merasa seolah-olah masih berada dalam suasana kerja sepanjang hari.
Jika memungkinkan, gunakan area tertentu sebagai tempat bekerja dan tinggalkan area tersebut setelah jam kerja selesai.
Tidak harus memiliki ruangan khusus. Meja di sudut rumah pun bisa digunakan, selama ada kebiasaan yang membedakan waktu kerja dan waktu pribadi.
APA juga menyarankan adanya ruang kerja yang terpisah jika memungkinkan karena bekerja dari rumah dapat membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.
Untuk dapat memahami lebih jauh tentang Batas antara Tempat Kerja dan Tempat Istirahat, Baca 👉 Cara Mengatur Waktu Kerja dari RUmah agar Tetap Produktif.
5. Gunakan Teknologi untuk Membantu, Bukan Mengganggu
Teknologi dapat membantu mengatur waktu, tetapi juga bisa menjadi alasan pekerjaan terus masuk ke kehidupan pribadi.
Kalender digital, aplikasi pengingat, daftar tugas, dan fitur penjadwalan dapat digunakan untuk mengatur pekerjaan dengan lebih rapi.
Namun, notifikasi juga perlu dikendalikan.
Misalnya, setelah jam kerja selesai:
matikan notifikasi email kantor;
aktifkan mode jangan ganggu;
hindari membuka aplikasi pekerjaan tanpa alasan penting;
pisahkan aplikasi kerja dan pribadi jika memungkinkan.
Tujuannya bukan menjauhi teknologi, melainkan mengendalikan kapan teknologi boleh mengambil perhatian.
Untuk pembahasan yang lebih khusus, artikel ini dapat ditautkan ke artikel pendukung [Cara Menggunakan Teknologi untuk Mengatur Waktu]. Posisi terbaiknya berada setelah bagian ini karena pembaca baru saja mendapatkan konteks tentang penggunaan kalender, aplikasi tugas, dan pengaturan notifikasi.
6. Belajar Mengatakan Tidak pada Pekerjaan yang Tidak Mendesak
Tidak semua permintaan harus langsung dikerjakan.
Jika ada pekerjaan tambahan yang sebenarnya dapat dilakukan besok, jangan selalu merasa harus menyelesaikannya malam itu.
Menolak bukan berarti tidak bertanggung jawab. Dalam banyak situasi, mengatakan bahwa sebuah tugas dapat dikerjakan pada waktu yang lebih realistis justru membantu mengatur ekspektasi.
Jika pekerjaan tambahan terus muncul, bicarakan prioritas dengan atasan atau tim agar tidak terjadi anggapan bahwa semua pekerjaan harus diselesaikan sekaligus.
7. Buat Jadwal yang Fleksibel
Jadwal yang terlalu ketat juga bisa menjadi masalah.
Tidak semua hari berjalan sesuai rencana. Rapat bisa bertambah, pekerjaan mendadak muncul, keluarga membutuhkan perhatian, atau kondisi tubuh sedang tidak memungkinkan bekerja seperti biasa.
Karena itu, buat jadwal yang memiliki ruang untuk perubahan.
APA merekomendasikan struktur yang tetap fleksibel, menyederhanakan daftar tugas berdasarkan prioritas, serta mendelegasikan pekerjaan jika memang memungkinkan.
Jadwal yang baik bukan jadwal yang membuat setiap menit terisi, tetapi jadwal yang membantu kita mengetahui apa yang penting tanpa membuat hidup terasa seperti perlombaan.
Jika pembaca ingin mengatasi pekerjaan yang terus menumpuk, Baca Juga👉 Cara Mengatur Waktu agar pekerjaan tidak Menumpuk
8. Jangan Mengabaikan Waktu Istirahat
Istirahat bukan berarti membuang waktu.
Tidur yang cukup, aktivitas fisik, waktu bersama orang terdekat, dan kegiatan yang menyenangkan merupakan bagian dari kehidupan pribadi yang perlu mendapat ruang.
OECD menyebut kemampuan menggabungkan pekerjaan dengan keluarga dan waktu luang sebagai bagian penting dari kesejahteraan. Ketidakseimbangan dapat muncul ketika tuntutan pekerjaan terlalu banyak merembet ke kehidupan pribadi.
Karena itu, jadwal yang penuh pekerjaan tanpa ruang untuk pemulihan bukanlah tanda produktivitas yang sehat.
9. Evaluasi Rutinitas Setiap Minggu
Tidak perlu menunggu sampai merasa benar-benar kewalahan untuk mengevaluasi penggunaan waktu.
Luangkan beberapa menit setiap akhir minggu untuk melihat:
pekerjaan apa yang paling banyak menyita waktu;
apakah pekerjaan masuk ke waktu pribadi;
apakah ada aktivitas yang sebenarnya tidak penting;
apakah waktu bersama keluarga sudah cukup;
apakah masih ada waktu untuk beristirahat;
apa yang perlu diubah minggu berikutnya.
Dari evaluasi sederhana tersebut, kita bisa mengetahui pola yang selama ini tidak terlihat.
Apa Tanda Work-Life Balance Mulai Terganggu?
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain pekerjaan terus memenuhi pikiran di luar jam kerja, sulit menikmati waktu bersama keluarga, sering memeriksa pesan pekerjaan saat sedang beristirahat, atau merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri.
OECD mencatat bahwa konflik antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi berkaitan dengan kondisi kesejahteraan yang lebih buruk.
Jika pola tersebut terus berlangsung, masalahnya mungkin bukan sekadar kurang pandai mengatur waktu. Bisa jadi beban kerja, ekspektasi, atau sistem kerja memang perlu dibicarakan dan diubah.
Apakah Work-Life Balance Harus Selalu Sempurna?
Tidak.
Keseimbangan kehidupan bukan kondisi yang selalu sama setiap hari. Prioritas seseorang dapat berubah sesuai pekerjaan, kondisi keluarga, kesehatan, maupun tahap kehidupan.
Karena itu, jangan menjadikan work-life balance sebagai target untuk membuat setiap hari berjalan sempurna.
Yang lebih realistis adalah memastikan pekerjaan dan kehidupan pribadi sama-sama mendapatkan ruang yang cukup, kemudian menyesuaikannya ketika keadaan berubah.
Kesimpulan
Cara membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bukan sekadar membuat jadwal yang padat. Yang lebih penting adalah menentukan prioritas, menetapkan batas jam kerja, menyediakan waktu untuk keluarga dan diri sendiri, serta mengendalikan penggunaan teknologi.
Mulailah dari hal sederhana. Tentukan kapan pekerjaan selesai, matikan notifikasi kerja ketika waktunya beristirahat, pilih tugas yang benar-benar penting, dan jangan menunggu semua pekerjaan selesai sebelum memberikan waktu untuk kehidupan pribadi.
Work-life balance tidak harus sempurna setiap hari. Yang penting, pekerjaan tidak terus mengambil seluruh ruang dalam hidup.
FAQ
1. Apa cara paling sederhana untuk menjaga work-life balance?
Mulailah dengan menetapkan batas jam kerja yang jelas dan usahakan tidak membawa pekerjaan ke waktu pribadi jika tidak benar-benar diperlukan.
2. Apakah bekerja dari rumah membuat work-life balance lebih sulit?
Bisa. Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat menjadi lebih kabur sehingga penting membuat jadwal dan area kerja yang jelas.
3. Apakah teknologi bisa membantu mengatur keseimbangan kerja dan kehidupan?
Bisa. Kalender, aplikasi tugas, pengingat, dan fitur pengaturan notifikasi dapat membantu selama teknologi digunakan untuk mengendalikan pekerjaan, bukan membuat seseorang selalu tersedia.
4. Apakah work-life balance berarti harus mengurangi jam kerja?
Tidak selalu. Keseimbangan juga dipengaruhi oleh fleksibilitas, beban kerja, kontrol terhadap jadwal, dan kemampuan memisahkan pekerjaan dari waktu pribadi.
5. Apa yang harus dilakukan jika pekerjaan terus masuk ke waktu pribadi?
Coba tentukan batas yang jelas dan komunikasikan prioritas serta ekspektasi dengan atasan atau tim. Jika masalah terus terjadi, kemungkinan yang perlu diperbaiki bukan hanya manajemen waktu pribadi, tetapi juga pola kerja.
Sumber
-
OECD — How's Life? 2020: Work-Life Balance
https://www.oecd.org/en/publications/2020/03/how-s-life-2020_b547d82c/full-report/component-13.html -
OECD — Guidelines on Measuring the Quality of the Working Environment
https://www.oecd.org/content/dam/oecd/en/publications/reports/2017/11/oecd-guidelines-on-measuring-the-quality-of-the-working-environment_g1g7ca23/9789264278240-en.pdf - American Psychological Association — 2024 Work in America Survey
https://www.apa.org/pubs/reports/work-in-america/2024 -
American Psychological Association — How working women can manage work-life balance
https://www.apa.org/topics/women-girls/work-life-balance
