Beranda › Karir › Cara Mengatur Waktu Kerja dari Rumah agar Tetap Produktif

Cara Mengatur Waktu Kerja dari Rumah agar Tetap Produktif

Tim Redaksi
Disusun oleh
Zulhadi
-
Cara Mengatur Waktu Kerja dari Rumah agar Tetap Produktif
Cara Mengatur Waktu Kerja dari Rumah agar Tetap Produktif

Bekerja dari rumah terlihat sederhana. Tidak perlu perjalanan ke kantor, bisa bekerja dengan pakaian yang lebih santai, bahkan mungkin bisa sambil sesekali mengurus pekerjaan rumah.

Namun, justru di situlah tantangannya.

Ketika rumah menjadi kantor, batas antara waktu bekerja dan waktu pribadi bisa menjadi kabur. Baru saja membuka laptop, tiba-tiba ada pekerjaan rumah. Belum selesai mengurusnya, muncul pesan dari rekan kerja. Setelah itu, pekerjaan yang seharusnya selesai sore hari malah berlanjut sampai malam.

Lalu, bagaimana cara mengatur waktu kerja dari rumah agar tetap produktif?

Kuncinya bukan bekerja lebih lama, tetapi membuat batas yang jelas, memiliki rutinitas, menentukan prioritas, dan memberi jeda di antara pekerjaan. CDC melalui National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) juga menyarankan rutinitas, batas waktu dan ruang kerja, waktu fokus, istirahat berkala, serta kemampuan untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan setelah hari kerja selesai.

Kenapa Bekerja dari Rumah Bisa Membuat Waktu Berantakan?

Di kantor, banyak hal secara otomatis membantu membentuk rutinitas. Ada jam masuk, ruang kerja, rekan kerja, waktu istirahat, dan tanda bahwa hari kerja sudah selesai ketika seseorang meninggalkan kantor.

Di rumah, semua batas tersebut bisa hilang.

Meja kerja mungkin hanya beberapa langkah dari tempat tidur. Laptop bisa tetap terbuka setelah jam kerja. Pesan pekerjaan juga dapat masuk kapan saja melalui ponsel.

Menurut American Psychological Association (APA), kemampuan menentukan kapan dan di mana seseorang bekerja berkaitan dengan fleksibilitas dan pengalaman kerja. Dalam survei Work in America 2024, sekitar sepertiga pekerja yang disurvei mengatakan mereka belum memiliki fleksibilitas yang cukup untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi.

Artinya, masalah kerja dari rumah bukan semata-mata soal disiplin.

Lingkungan, batas kerja, beban pekerjaan, dan cara mengatur waktu juga ikut menentukan.

1. Tentukan Jam Mulai dan Jam Selesai

Salah satu cara paling sederhana adalah membuat jam kerja yang jelas.

Misalnya, Anda menentukan pekerjaan dimulai pukul 08.00 dan selesai pukul 17.00. Jadwal tentu dapat disesuaikan dengan pekerjaan dan kebutuhan masing-masing.

Yang penting, ada titik awal dan titik akhir.

Tanpa batas tersebut, seseorang bisa tergoda membuka laptop lebih awal, bekerja saat makan, lalu kembali membuka pekerjaan pada malam hari karena merasa masih ada yang belum selesai.

CDC/NIOSH menyarankan pekerja dari rumah untuk membuat rutinitas dan menetapkan batas waktu serta ruang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Jadi, jangan hanya membuat jadwal kapan harus mulai bekerja. Tentukan juga kapan pekerjaan seharusnya berhenti.

2. Buat Rutinitas Sebelum Mulai Bekerja

Tidak perlu membuat ritual yang rumit.

Rutinitas sederhana seperti mandi, sarapan, menyiapkan meja kerja, kemudian membuka daftar tugas dapat menjadi tanda bahwa waktu pribadi sudah berganti menjadi waktu kerja.

Jika memungkinkan, hindari langsung bekerja dari tempat tidur.

Tujuannya bukan membuat suasana rumah seperti kantor, tetapi memberikan sinyal yang konsisten kepada diri sendiri bahwa aktivitas kerja sudah dimulai.

Rutinitas yang sama juga dapat digunakan untuk mengakhiri hari kerja.

Misalnya, menyelesaikan pekerjaan, memeriksa agenda untuk besok, menutup laptop, lalu meninggalkan meja kerja.

3. Pisahkan Area Kerja dari Area Istirahat

Tidak semua orang memiliki ruang khusus untuk dijadikan kantor.

Namun, meja kecil di sudut ruangan pun dapat menjadi area kerja yang cukup selama digunakan secara konsisten.

CDC/NIOSH menyebutkan bahwa ruang kerja khusus dapat membantu menjaga fokus, sekaligus memungkinkan kondisi seperti pencahayaan, kebisingan, dan suhu diatur dengan lebih baik.

Jika pekerjaan dilakukan di tempat tidur atau sofa setiap hari, batas antara bekerja dan beristirahat bisa semakin sulit dibentuk.

Karena itu, jika memungkinkan, gunakan satu area tertentu untuk bekerja dan tinggalkan area tersebut ketika jam kerja selesai.

4. Tentukan Tiga Prioritas Utama Setiap Hari

Daftar pekerjaan yang terlalu panjang bisa membuat hari kerja terasa penuh bahkan sebelum dimulai.

Daripada memasukkan puluhan tugas ke dalam daftar, pilih beberapa pekerjaan yang benar-benar penting.

Misalnya:

  • menyelesaikan laporan;

  • mengikuti rapat dengan klien;

  • memeriksa data yang dibutuhkan tim.

Pekerjaan lain tetap bisa dicatat, tetapi jangan semuanya dianggap sebagai prioritas utama.

Dengan cara ini, Anda memiliki gambaran yang lebih jelas tentang hasil apa yang ingin dicapai hari itu.

5. Gunakan Blok Waktu untuk Menjaga Fokus

Bekerja dari rumah bukan berarti harus mengerjakan semua hal secara bersamaan.

Justru, terlalu sering berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dapat membuat perhatian terpecah.

Cobalah mengelompokkan pekerjaan berdasarkan jenisnya.

Misalnya, pagi digunakan untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Setelah itu, sediakan waktu khusus untuk rapat atau komunikasi. Email dan pesan rutin dapat diperiksa pada waktu yang sudah ditentukan.

Konsep seperti ini membantu mengurangi kebiasaan terus-menerus berpindah tugas.

Atlassian juga merekomendasikan penggunaan waktu fokus dan pembagian pekerjaan secara terstruktur untuk membantu pekerja jarak jauh menjaga produktivitas sekaligus batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

6. Kendalikan Notifikasi

Salah satu gangguan terbesar ketika bekerja dari rumah adalah notifikasi.

Pesan masuk di ponsel, email, aplikasi komunikasi kantor, hingga pemberitahuan dari media sosial bisa muncul hampir tanpa jeda.

Tidak semua notifikasi membutuhkan respons saat itu juga.

Jika pekerjaan memungkinkan, matikan notifikasi yang tidak berkaitan dengan tugas yang sedang dikerjakan. Untuk aplikasi kerja, gunakan pengaturan agar pesan tetap bisa diperiksa pada waktu tertentu.

Tujuannya bukan menghilangkan komunikasi, tetapi mencegah setiap bunyi notifikasi mengambil perhatian.

7. Komunikasikan Jam Kerja kepada Orang di Rumah

Bekerja dari rumah bukan berarti selalu tersedia untuk urusan rumah.

Jika tinggal bersama keluarga, pasangan, atau orang lain, komunikasi sederhana mengenai jadwal kerja dapat membantu.

Misalnya, beri tahu bahwa pukul 09.00–12.00 merupakan waktu fokus dan sebisa mungkin tidak diganggu kecuali ada kebutuhan penting.

Jika memiliki ruang kerja dengan pintu, menutup pintu dapat menjadi tanda bahwa Anda sedang bekerja. Jika tidak memiliki ruangan khusus, tanda sederhana seperti menggunakan meja tertentu atau memakai headphone juga dapat membantu membentuk kebiasaan.

Penelitian yang dibahas APA menunjukkan bahwa pengelolaan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi penting ketika kedua aktivitas berlangsung di tempat yang sama.

8. Jangan Lupakan Waktu Istirahat

Produktif bukan berarti duduk di depan laptop selama berjam-jam tanpa berhenti.

Tubuh tetap membutuhkan perubahan posisi dan jeda.

CDC/NIOSH menyebutkan bahwa istirahat berkala dan perubahan posisi dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat bekerja dalam posisi yang sama terlalu lama. Panduan tersebut juga menyarankan jeda dari layar dan duduk secara berkala.

Jeda tidak harus lama.

Bangun dari kursi, berjalan sebentar, mengambil minum, melakukan peregangan ringan, atau sekadar melihat jauh dari layar dapat menjadi kesempatan untuk mengubah posisi dan mengistirahatkan perhatian.

9. Perhatikan Posisi dan Peralatan Kerja

Produktivitas juga dipengaruhi oleh kenyamanan tempat kerja.

Bekerja dengan laptop di meja makan mungkin praktis, tetapi posisi layar, keyboard, mouse, dan kursi tetap perlu diperhatikan.

CDC/NIOSH menyarankan agar layar berada pada posisi yang nyaman, keyboard dan mouse memungkinkan posisi tangan yang netral, serta pekerja mengubah posisi secara berkala. Jika menggunakan laptop dalam waktu lama, monitor eksternal atau keyboard dan mouse terpisah dapat membantu menyesuaikan posisi perangkat.

Hal ini bukan sekadar soal kenyamanan.

Ergonomi yang baik bertujuan mengurangi faktor risiko gangguan muskuloskeletal yang dapat muncul akibat kondisi kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan tubuh.

10. Bedakan Pekerjaan Rumah dengan Pekerjaan Kantor

Inilah salah satu jebakan bekerja dari rumah.

Ketika melihat cucian menumpuk, meja belum dirapikan, atau ada pekerjaan rumah lain, kita merasa bisa menyelesaikannya sebentar di sela pekerjaan.

Masalahnya, "sebentar" bisa berubah menjadi setengah jam atau lebih.

Jika pekerjaan rumah tidak mendesak, catat untuk dikerjakan setelah jam kerja. Dengan begitu, perhatian tidak terus berpindah antara pekerjaan kantor dan urusan rumah.

Tidak semua hal harus diselesaikan pada saat yang sama.

11. Buat Ritual untuk Mengakhiri Hari Kerja

Bagian ini sering dilupakan.

Di kantor, perjalanan pulang secara alami menjadi tanda bahwa pekerjaan telah selesai. Saat bekerja dari rumah, tanda tersebut tidak selalu ada.

Karena itu, buat sendiri.

Misalnya:

  1. selesaikan tugas utama;

  2. catat pekerjaan yang harus dilanjutkan besok;

  3. periksa agenda hari berikutnya;

  4. tutup aplikasi pekerjaan;

  5. matikan laptop;

  6. tinggalkan area kerja.

APA juga menyoroti pentingnya detachment atau kemampuan melepaskan diri dari pekerjaan. Menutup komputer dan mengambil jeda setelah hari kerja merupakan salah satu cara membangun batas waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Setelah itu, tidak perlu terus memikirkan pekerjaan yang memang bisa dilanjutkan besok.

12. Jangan Mengukur Produktivitas dari Lamanya Bekerja

Bekerja sampai malam bukan otomatis berarti lebih produktif.

Bisa jadi pekerjaan berlangsung lama karena banyak gangguan, terlalu sering berpindah tugas, atau tidak ada prioritas yang jelas.

Sebaliknya, beberapa jam yang digunakan dengan fokus dapat menghasilkan lebih banyak daripada satu hari penuh yang dipenuhi interupsi.

Karena itu, ukur produktivitas berdasarkan hasil yang penting, bukan sekadar berapa lama laptop menyala.

Kalau Pekerjaan Tetap Berlanjut sampai Malam?

Jika pekerjaan terus masuk ke waktu pribadi meskipun sudah memiliki jadwal, mungkin masalahnya bukan sekadar pengaturan waktu.

Perhatikan apakah beban pekerjaan memang terlalu besar, apakah tenggat waktu realistis, atau apakah ada ekspektasi untuk selalu merespons pesan di luar jam kerja.

APA mencatat bahwa pekerja menginginkan kontrol yang lebih besar terhadap kapan dan di mana mereka bekerja, sementara batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi tetap menjadi tantangan bagi sebagian pekerja.

Dalam kondisi seperti ini, pembicaraan dengan atasan atau tim mengenai beban kerja, prioritas, dan jam komunikasi dapat menjadi bagian dari solusi.

Bekerja dari Rumah Tidak Harus Terasa Seperti Bekerja Sepanjang Hari

Cara mengatur waktu kerja dari rumah sebenarnya tidak membutuhkan jadwal yang rumit.

Mulailah dengan beberapa kebiasaan sederhana: tentukan jam kerja, siapkan area khusus, pilih prioritas, batasi notifikasi, ambil waktu istirahat, dan buat tanda yang jelas ketika pekerjaan sudah selesai.

Yang paling penting adalah menciptakan batas.

Rumah memang menjadi tempat bekerja, tetapi bukan berarti seluruh waktu di rumah harus berubah menjadi waktu kerja.

Kesimpulan

Cara mengatur waktu kerja dari rumah agar tetap produktif bukan tentang memperpanjang jam kerja.

Yang lebih penting adalah membuat rutinitas, menentukan prioritas, menciptakan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, mengendalikan gangguan, serta memberikan waktu untuk istirahat.

Tempat kerja yang nyaman juga tidak kalah penting. Posisi kerja yang baik, jeda berkala, dan pengaturan perangkat dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan selama bekerja.

Pada akhirnya, bekerja dari rumah seharusnya memberikan fleksibilitas, bukan membuat seseorang merasa harus selalu bekerja.

Baca Juga :👉Bagaimana Membagi Waktu antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi?

Bekerja lebih produktif bukan berarti harus menghabiskan seluruh waktu untuk pekerjaan. Cari tahu bagaimana membagi waktu antara pekerjaan/karir dan kehidupan pribadi agar pekerjaan tetap berjalan tanpa mengorbankan keluarga, istirahat, dan waktu untuk diri sendiri.

Referensi

  1. CDC/NIOSH — Working from Home: How to Optimize Your Work Environment and Stay Healthy https://www.cdc.gov/niosh/bulletin/2020/working-from-home.html
  2. American Psychological Association — Increase employees’ options for where, when, and how they work https://www.apa.org/topics/healthy-workplaces/mental-health/flexible-work
  3. American Psychological Association — U.S. workers adjust to the changing nature of employment: Highlights from the 2024 Work in America survey https://www.apa.org/pubs/reports/work-in-america/2024
  4. American Psychological Association — Workers crave autonomy and flexibility. Here are ways to achieve that balance https://www.apa.org/topics/healthy-workplaces/work-life-harmony
  5. American Psychological Association — What do people really want in their work? Meaning and stability https://www.apa.org/monitor/2024/01/trends-meaning-stability-workplaces
  6. Atlassian — How to be more productive working from home https://www.atlassian.com/blog/teamwork/more-productive-working-from-home