Pernah melihat anak membongkar mainan hanya karena penasaran dengan isinya? Atau mencoba berkali-kali memasukkan balok ke dalam kotak meskipun belum berhasil?
Kelihatannya seperti bermain biasa. Padahal, di balik kegiatan tersebut ada proses penting yang sedang berlangsung: anak sedang belajar berpikir dan memecahkan masalah.
Inilah yang disebut perkembangan kognitif.
Apa Itu Perkembangan Kognitif?
Perkembangan kognitif berkaitan dengan kemampuan anak dalam belajar, berpikir, mengingat, memahami informasi, memusatkan perhatian, dan menyelesaikan masalah.
Kemampuan ini tidak muncul sekaligus. Anak membangunnya sedikit demi sedikit melalui pengalaman sehari-hari.
CDC memasukkan kemampuan belajar, berpikir, dan memecahkan masalah sebagai salah satu kelompok utama dalam milestone perkembangan anak.
Karena itu, aktivitas sederhana seperti menyusun benda, mencari mainan yang disembunyikan, bermain pura-pura, menggambar, atau menjawab pertanyaan dapat menjadi pengalaman belajar.
Bagaimana Perkembangan Kognitif Terlihat?
Pada usia dini, perkembangan kognitif sering terlihat melalui rasa ingin tahu.
Anak bertanya "kenapa?", mencoba benda baru, memperhatikan perubahan, meniru kegiatan orang dewasa, dan mengulangi aktivitas yang menarik bagi mereka.
Misalnya, anak menjatuhkan sendok dari meja berkali-kali. Bagi orang dewasa, hal itu mungkin terlihat seperti kebiasaan yang mengganggu.
Namun anak sedang mengamati hubungan sebab-akibat: ketika benda dilepaskan, benda jatuh.
Seiring bertambah usia, cara berpikir tersebut menjadi semakin kompleks.
CDC mencatat bahwa anak usia 2 tahun mulai menunjukkan kemampuan menggunakan benda dengan cara tertentu, bermain dengan beberapa benda sekaligus, dan mencoba menggunakan tombol atau mekanisme sederhana pada mainan.
Pada usia 4 tahun, kemampuan kognitif dapat terlihat melalui kemampuan menyebut beberapa warna, mengetahui kelanjutan cerita yang sudah dikenal, atau menggambar manusia dengan beberapa bagian tubuh.
Bermain Adalah Bagian dari Belajar
Salah satu cara alami anak mengembangkan kemampuan berpikir adalah bermain.
NAEYC menyebut bermain sebagai bagian penting dari pembelajaran anak karena dapat mendukung kemampuan memecahkan masalah, berpikir simbolik, bahasa, hubungan sosial, dan berbagai kemampuan lainnya.
Permainan tidak harus rumit.
Puzzle sederhana dapat membantu anak mencari hubungan antarbagian. Balok dapat memberi kesempatan untuk mencoba konstruksi. Permainan memasangkan warna dapat membantu anak mengenali pola.
Bahkan bermain pura-pura dapat membantu anak menggunakan simbol dan imajinasi.
Mengapa Anak Suka Mengulang?
Orang tua mungkin merasa heran mengapa anak ingin melakukan permainan yang sama berulang kali.
Pengulangan sebenarnya dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Saat anak mengulang aktivitas, mereka memiliki kesempatan untuk memahami pola, menguji kemungkinan baru, dan memperkirakan hasil.
Anak mungkin membangun menara yang sama beberapa kali. Pada percobaan berikutnya, ia mungkin mencoba membuat bagian bawah lebih lebar agar menara tidak mudah jatuh.
Di situlah proses pemecahan masalah berlangsung.
Peran Orang Tua dalam Perkembangan Kognitif
Orang tua tidak harus menjadi guru sepanjang hari.
Percakapan sederhana sudah dapat memberikan rangsangan kognitif.
Saat berjalan bersama anak, misalnya, orang tua dapat membicarakan warna kendaraan, bentuk awan, ukuran benda, atau apa yang mungkin terjadi berikutnya.
Ketika membaca buku, orang tua dapat mengajak anak memperhatikan gambar dan membicarakan apa yang sedang terjadi.
Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi dua arah antara anak dan orang dewasa membantu mendukung perkembangan otak serta kemampuan bahasa dan sosial.
Jangan Terlalu Cepat Memberikan Jawaban
Ketika anak menghadapi masalah sederhana, orang dewasa sering langsung membantu.
Padahal, memberi sedikit waktu kepada anak untuk mencoba dapat memberikan kesempatan untuk berpikir.
Misalnya, ketika anak kesulitan menyusun puzzle, orang tua tidak harus langsung menunjukkan jawabannya. Bisa dengan memberikan pertanyaan sederhana seperti, "Menurutmu bagian ini cocok di mana?"
Dengan cara tersebut, anak tetap mendapatkan dukungan tetapi memiliki kesempatan menemukan solusi.
Perkembangan Anak Tidak Selalu Sama
Anak dapat memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda.
Satu anak mungkin cepat memahami angka, sementara anak lain lebih tertarik pada cerita dan permainan imajinatif.
Milestone sebaiknya digunakan untuk memahami perkembangan, bukan sebagai alat untuk memberi label bahwa seorang anak lebih pintar daripada anak lainnya.
CDC menekankan bahwa milestone bukan standar perkembangan anak.
Kapan Perlu Berkonsultasi?
Jika orang tua memiliki kekhawatiran tentang kemampuan belajar, perhatian, komunikasi, atau pemecahan masalah anak, kekhawatiran tersebut dapat dibicarakan dengan dokter atau tenaga profesional.
Semakin jelas informasi yang dimiliki orang tua tentang perkembangan anak, semakin mudah pula profesional memberikan penilaian yang sesuai.
Kesimpulan
Perkembangan kognitif terjadi dalam banyak aktivitas sederhana.
Ketika anak bertanya, mencoba, gagal, mengulang, mengamati, membandingkan, dan menemukan solusi, sebenarnya ia sedang membangun kemampuan berpikir.
Karena itu, rumah tidak harus berubah menjadi ruang kelas agar anak dapat belajar. Dunia sehari-hari sudah menyediakan banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kognitif.
Baca Juga 👉 Panduan Memahami Pertumbuhan Anak
Perkembangan anak mencakup kemampuan berpikir, bahasa, emosi, sosial, fisik, dan kreativitas yang berkembang secara bertahap.
Sumber
CDC — Milestones by 2 Years:
https://www.cdc.gov/act-early/milestones/2-years.htmlCDC — Milestones by 4 Years:
https://www.cdc.gov/act-early/milestones/4-years.htmlCDC — Developmental Milestones:
https://www.cdc.gov/act-early/milestones/index.htmlHarvard Center on the Developing Child — Serve and Return:
https://developingchild.harvard.edu/key-concept/serve-and-return/NAEYC — Principles of Child Development and Learning:
https://www.naeyc.org/resources/position-statements/dap/principles
