Beranda › Pendidikan › Perkembangan Emosional Anak: Cara Anak Mengenali dan Mengelola Perasaan

Perkembangan Emosional Anak: Cara Anak Mengenali dan Mengelola Perasaan

Tim Redaksi
Disusun oleh
Zulhadi
-
Perkembangan Emosional Anak: Cara Anak Mengenali dan Mengelola Perasaan

Anak tiba-tiba menangis karena mainannya diambil. Beberapa menit kemudian ia bisa tertawa lagi. Di lain waktu, anak marah hanya karena sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.

Bagi orang dewasa, reaksi tersebut kadang terlihat berlebihan. Namun bagi anak, kemampuan memahami dan mengatur emosi memang masih berkembang.

Apa Itu Perkembangan Emosional?

Perkembangan emosional adalah proses ketika anak belajar mengenali, mengekspresikan, memahami, dan secara bertahap mengatur perasaannya.

Anak kecil belum memiliki kemampuan pengendalian emosi seperti orang dewasa.

Karena itu, menangis, berteriak, takut, kecewa, senang, atau mencari pelukan dapat menjadi bagian dari proses perkembangan.

UNICEF memasukkan perkembangan sosial dan emosional sebagai bagian penting dari perkembangan anak secara keseluruhan.

Anak Belajar Emosi dari Pengalaman

Bayi sudah menunjukkan berbagai respons emosional sejak awal kehidupan.

Pada usia tertentu, anak mulai mengenali orang yang dekat dengannya, menunjukkan rasa senang ketika berinteraksi, dan memberikan respons berbeda terhadap situasi tertentu.

UNICEF mencatat bahwa bayi usia 4 bulan, misalnya, mulai menunjukkan senyum spontan, meniru ekspresi wajah, dan menikmati interaksi dengan orang lain.

Seiring pertumbuhan, ekspresi emosi menjadi semakin kompleks.

Mengapa Anak Sering Mengalami Ledakan Emosi?

Anak dapat merasakan emosi yang kuat tetapi belum selalu memiliki kemampuan untuk mengungkapkannya dengan kata-kata.

Anak mungkin tahu bahwa dirinya marah, tetapi belum mampu menjelaskan alasan kemarahannya.

Karena itu, perilaku seperti menangis atau berteriak kadang menjadi cara anak menunjukkan sesuatu yang belum dapat ia ungkapkan secara verbal.

Pada usia 2 tahun, misalnya, anak mulai semakin mandiri dan dapat menunjukkan penolakan ketika keinginannya berbeda dengan orang dewasa. UNICEF menjelaskan bahwa perilaku tersebut dapat muncul ketika anak mulai menguji batas dan mengeksplorasi lingkungan.

Hubungan yang Responsif Membantu

Hubungan yang aman dan responsif memberikan ruang bagi anak untuk belajar tentang emosi.

Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi timbal balik antara anak dan orang dewasa berperan dalam perkembangan otak serta fondasi kesejahteraan emosional dan sosial.

Ketika anak menangis, misalnya, respons orang dewasa dapat membantu anak merasa diperhatikan.

Bukan berarti semua keinginan anak harus dipenuhi.

Anak tetap membutuhkan batasan, tetapi batasan tersebut dapat diberikan bersama respons yang tenang dan konsisten.

Membantu Anak Mengenali Perasaannya

Salah satu langkah sederhana adalah memberikan nama pada emosi.

Ketika anak terlihat kecewa, orang tua dapat mengatakan bahwa anak sedang kecewa.

Ketika anak takut, orang tua dapat membantu mengenali rasa takut tersebut.

Harvard menyebut bahwa memberi nama pada apa yang dilihat, dilakukan, atau dirasakan anak dapat membantu membangun hubungan bahasa sekaligus mendukung perkembangan sosial dan emosional.

Anak Tidak Harus Selalu Bahagia

Tujuan perkembangan emosional bukan membuat anak selalu tenang atau selalu bahagia.

Anak perlu mengalami berbagai emosi.

Sedih, kecewa, marah, takut, dan frustrasi juga merupakan pengalaman emosional yang dapat membantu anak belajar memahami dirinya.

Yang berkembang secara bertahap adalah kemampuan untuk mengenali emosi tersebut dan menemukan cara yang lebih sesuai untuk menghadapinya.

Orang Tua Juga Menjadi Contoh

Anak belajar banyak hal melalui pengamatan.

Cara orang dewasa berbicara ketika marah, menghadapi masalah, meminta maaf, atau menyelesaikan konflik dapat menjadi contoh bagi anak.

Karena itu, perkembangan emosional tidak hanya terjadi ketika orang tua memberikan nasihat.

Perilaku sehari-hari juga menjadi bagian dari pembelajaran.

Kapan Perlu Mendapatkan Bantuan?

Jika orang tua merasa ada perubahan perilaku atau emosi yang mengkhawatirkan, berlangsung terus-menerus, atau mengganggu kehidupan sehari-hari anak, pembicaraan dengan dokter atau profesional dapat membantu.

Pemantauan perkembangan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, bukan berdasarkan satu perilaku saja.

Kesimpulan

Perkembangan emosional membutuhkan waktu.

Anak belajar mengenali perasaan melalui pengalaman, hubungan, komunikasi, dan contoh dari orang dewasa di sekitarnya.

Dengan hubungan yang responsif dan lingkungan yang aman, anak mendapatkan kesempatan untuk belajar memahami dirinya sekaligus berhubungan dengan orang lain.

Baca Juga 👉 Panduan Memahami Pertumbuhan Anak

Perkembangan anak mencakup kemampuan berpikir, bahasa, emosi, sosial, fisik, dan kreativitas yang berkembang secara bertahap.

Sumber

  • UNICEF — Early Childhood Development:
    https://www.unicef.org/early-childhood-development

  • UNICEF Indonesia — Perkembangan bayi pada usia 4 bulan:
    https://www.unicef.org/indonesia/id/kampung-pengasuhan/perkembangan-bayi-pada-usia-4-bulan

  • UNICEF Indonesia — Perkembangan bayi pada usia 2 tahun:
    https://www.unicef.org/indonesia/id/kampung-pengasuhan/perkembangan-bayi-pada-usia-2-tahun

  • CDC — Milestones by 2 Years:
    https://www.cdc.gov/act-early/milestones/2-years.html

  • Harvard Center on the Developing Child — Serve and Return:
    https://developingchild.harvard.edu/key-concept/serve-and-return/