Ada anak yang sejak kecil banyak mengoceh. Ada pula yang lebih sering menunjuk benda daripada berbicara. Ketika melihat perbedaan seperti ini, orang tua sering bertanya, "Apakah perkembangan bahasa anak saya normal?"
Perkembangan bahasa memang berlangsung secara bertahap. Anak belajar memahami suara, kata, kalimat, dan akhirnya menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Bahasa Dimulai Sebelum Anak Bisa Bicara
Kemampuan bahasa tidak tiba-tiba muncul ketika anak mengucapkan kata pertama.
Sejak bayi, anak sudah belajar melalui suara, ekspresi wajah, tatapan, dan interaksi dengan orang dewasa.
UNICEF mencatat bahwa bayi belajar berkomunikasi melalui berbagai bentuk interaksi. Pada usia tertentu, bayi mulai mengoceh, meniru suara, menunjuk, dan merespons ketika diajak berkomunikasi.
Jadi, ketika bayi mengeluarkan suara lalu orang tua membalasnya, sebenarnya sudah terjadi percakapan sederhana.
Mengapa Percakapan Dua Arah Penting?
Harvard Center on the Developing Child menggunakan istilah serve and return untuk menggambarkan interaksi timbal balik antara anak dan orang dewasa.
Anak memberikan "sinyal" melalui suara, tatapan, ekspresi atau gerakan. Orang dewasa kemudian merespons.
Interaksi seperti ini membantu membangun kemampuan komunikasi dan menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung perkembangan otak.
Artinya, mendengar bahasa saja bukan satu-satunya hal yang penting. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk ikut berinteraksi.
Perkembangan Bahasa pada Anak Usia Dini
Kemampuan bahasa berkembang secara bertahap.
Pada sekitar usia 15 bulan, CDC mencatat bahwa anak umumnya mulai mencoba mengucapkan beberapa kata selain "mama" atau "dada", memahami nama benda yang dikenal, dan menggunakan gerakan untuk meminta sesuatu.
Pada usia 2 tahun, anak mulai menggabungkan setidaknya dua kata dan dapat menunjuk benda dalam buku ketika ditanya.
Memasuki usia 3 tahun, anak mulai terlibat dalam percakapan dengan beberapa kali pertukaran dan mulai mengajukan pertanyaan seperti "siapa", "apa", "di mana", atau "kenapa".
Pada usia 5 tahun, anak umumnya sudah mampu menceritakan cerita sederhana, menjawab pertanyaan mengenai cerita, dan mempertahankan percakapan dengan beberapa kali pertukaran.
Angka usia tersebut merupakan gambaran milestone, bukan jadwal kaku untuk setiap anak.
Cara Sederhana Mendukung Bahasa Anak
Salah satu cara paling mudah adalah berbicara dengan anak dalam kegiatan sehari-hari.
Saat menyiapkan makanan, orang tua dapat menyebut nama bahan. Saat berjalan, orang tua dapat membicarakan kendaraan yang lewat.
Ketika anak menunjuk seekor kucing, misalnya, orang tua dapat menanggapi dengan membicarakan kucing tersebut.
Harvard menjelaskan bahwa menamai apa yang sedang dilihat, dilakukan, atau dirasakan anak dapat membantu membangun hubungan penting dengan bahasa.
Membaca Bersama Tidak Harus Lama
Membaca buku bersama juga dapat menjadi kesempatan berkomunikasi.
Tidak harus selalu membaca setiap kalimat dari awal hingga akhir.
Orang tua dapat berhenti sejenak dan melihat gambar bersama anak. "Ini siapa?" atau "Menurut kamu, dia sedang apa?" dapat membuka percakapan.
Anak juga dapat diberi kesempatan untuk menunjuk, menjawab, atau menceritakan sesuatu berdasarkan gambar.
Jangan Selalu Membetulkan Cara Bicara Anak
Anak yang sedang belajar bahasa tentu dapat melakukan kesalahan.
Daripada terus mengatakan bahwa ucapan anak salah, orang tua dapat memberikan contoh kalimat yang benar secara alami.
Dengan demikian, percakapan tetap berlangsung dan anak mendapatkan model bahasa tanpa merasa sedang diuji.
Apakah Anak yang Banyak Bicara Pasti Lebih Maju?
Belum tentu.
Kemampuan bahasa memiliki banyak bagian, termasuk memahami bahasa, menggunakan kata, berbicara, berinteraksi, dan menggunakan bahasa sesuai situasi.
Karena itu, jumlah kata saja tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan kemampuan bahasa anak.
Kapan Orang Tua Perlu Memperhatikan?
Jika anak kehilangan kemampuan bahasa yang sebelumnya sudah dimiliki atau orang tua melihat perkembangan komunikasi yang tidak sesuai harapan, sebaiknya hal tersebut dibicarakan dengan dokter atau profesional.
CDC menegaskan bahwa daftar milestone merupakan alat komunikasi dan pemantauan, bukan pengganti pemeriksaan perkembangan yang tervalidasi.
Kesimpulan
Perkembangan bahasa dimulai jauh sebelum anak mampu berbicara dengan kalimat panjang.
Suara, tatapan, gerakan, menunjuk, meniru, dan percakapan sederhana merupakan bagian dari perjalanan tersebut.
Hal sederhana seperti mengajak bicara, membaca, mendengarkan, dan merespons ketika anak mencoba berkomunikasi dapat menciptakan banyak kesempatan belajar.
Baca Juga 👉 Panduan Memahami Pertumbuhan Anak
Perkembangan anak mencakup kemampuan berpikir, bahasa, emosi, sosial, fisik, dan kreativitas yang berkembang secara bertahap.
Sumber
CDC — Milestones by 15 Months:
https://www.cdc.gov/act-early/milestones/15-months.htmlCDC — Milestones by 2 Years:
https://www.cdc.gov/act-early/milestones/2-years.htmlCDC — Milestones by 3 Years:
https://www.cdc.gov/act-early/milestones/3-years.htmlCDC — Milestones by 5 Years:
https://www.cdc.gov/act-early/milestones/5-years.htmlHarvard Center on the Developing Child — Serve and Return:
https://developingchild.harvard.edu/key-concept/serve-and-return/UNICEF Indonesia — Perkembangan bayi pada usia 9 bulan:
https://www.unicef.org/indonesia/id/kampung-pengasuhan/perkembangan-bayi-pada-usia-9-bulan
