Beranda › Kesehatan › Perut Sering Kembung, Ini Beberapa Penyebab yang Perlu Diketahui

Perut Sering Kembung, Ini Beberapa Penyebab yang Perlu Diketahui

Tim Redaksi
Disusun oleh
Zulhadi
-
Perut Sering Kembung, Ini Beberapa Penyebab yang Perlu Diketahui

Perut terasa penuh, begah, banyak gas, atau tampak lebih besar dari biasanya? Kembung merupakan keluhan pencernaan yang cukup umum. Sesekali mengalaminya biasanya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Namun, jika perut sering kembung, muncul berulang, atau disertai keluhan lain, penyebabnya perlu diperhatikan. Pasalnya, kembung tidak selalu hanya disebabkan oleh terlalu banyak makan.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), kembung merupakan sensasi penuh atau membengkak pada bagian perut. Kondisi ini dapat berkaitan dengan gas di saluran pencernaan, pola makan, kebiasaan makan, maupun gangguan tertentu pada sistem pencernaan.

Apa yang sebenarnya terjadi saat perut kembung?

Gas sebenarnya merupakan bagian normal dari proses pencernaan. Gas dapat masuk ke saluran pencernaan ketika seseorang menelan udara saat makan atau minum. Selain itu, bakteri di usus besar menghasilkan gas ketika memecah karbohidrat yang tidak sepenuhnya dicerna oleh tubuh.

Masalah muncul ketika jumlah gas meningkat atau tubuh menjadi lebih sensitif terhadap gas yang sebenarnya masih dalam jumlah normal.

Akibatnya, seseorang dapat merasakan perut penuh, tertekan, begah, berbunyi, atau terasa lebih besar.

NIDDK menyebutkan bahwa kembung dan distensi tidak selalu merupakan hal yang sama. Seseorang dapat merasakan perut kembung tanpa perubahan ukuran perut yang terlihat jelas.

1. Terlalu banyak menelan udara

Salah satu penyebab yang sering luput diperhatikan adalah udara yang ikut masuk ke saluran pencernaan.

Kebiasaan makan terlalu cepat, minum menggunakan sedotan, mengunyah permen karet, mengonsumsi minuman berkarbonasi, atau berbicara terlalu banyak ketika makan dapat membuat lebih banyak udara tertelan.

Udara tersebut kemudian perlu dikeluarkan melalui sendawa atau diteruskan ke saluran pencernaan.

Jika jumlahnya cukup banyak, perut dapat terasa penuh dan tidak nyaman.

2. Makanan tertentu menghasilkan lebih banyak gas

Tidak semua makanan dicerna dengan cara yang sama. Beberapa jenis karbohidrat tidak sepenuhnya diserap di usus halus dan kemudian masuk ke usus besar.

Di sana, bakteri akan memecahnya dan menghasilkan gas.

NIDDK mencatat sejumlah makanan yang pada sebagian orang dapat meningkatkan gejala gas, antara lain kacang-kacangan, beberapa sayuran seperti brokoli dan kembang kol, produk susu, gandum utuh, beberapa buah, serta makanan atau minuman yang mengandung pemanis tertentu.

Artinya, makanan yang menyebabkan kembung pada seseorang belum tentu menimbulkan masalah yang sama pada orang lain.

Jika perut lebih sering terasa kembung setelah makan, penyebabnya bisa lebih spesifik. Baca juga Kenapa Perut Sering Kembung Setelah Makan? Ini Penyebab dan Cara Menguranginya.

3. Sembelit

Perut kembung juga dapat berkaitan dengan sembelit.

Ketika tinja bergerak terlalu lambat melalui saluran pencernaan, tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Penumpukan isi saluran pencernaan dapat membuat perut terasa penuh dan tidak nyaman.

Cleveland Clinic menjelaskan bahwa kurang serat, kurang minum, kurang aktivitas fisik, perubahan rutinitas, serta beberapa kondisi dan obat-obatan dapat berperan dalam terjadinya sembelit.

Karena itu, kembung yang disertai buang air besar yang jarang atau sulit tidak sebaiknya hanya dianggap sebagai masalah gas.

Baca juga Hubungan Perut Kembung dan Sembelit

4. Intoleransi terhadap makanan tertentu

Ada orang yang mengalami kembung setelah mengonsumsi makanan tertentu karena tubuhnya sulit mencerna komponen makanan tersebut.

Salah satu contohnya adalah intoleransi laktosa. Kondisi ini dapat menyebabkan keluhan setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa.

Menurut NIDDK, gangguan dalam mencerna karbohidrat tertentu dapat menyebabkan kembung, sakit perut, dan diare. Selain laktosa, fruktosa juga dapat menjadi pemicu pada sebagian orang.

Jika keluhan selalu muncul setelah makanan tertentu, mencatat makanan dan gejala dapat membantu menemukan pola.

5. Irritable bowel syndrome atau IBS

Kembung yang berulang juga dapat menjadi bagian dari irritable bowel syndrome (IBS).

IBS merupakan gangguan pada saluran pencernaan yang dapat menimbulkan sakit atau kram perut, kembung, gas, diare, sembelit, atau kombinasi beberapa gejala tersebut.

Mayo Clinic menjelaskan bahwa gejala IBS dapat dipengaruhi oleh makanan tertentu dan dapat menjadi lebih sering atau lebih berat pada sebagian orang ketika mengalami stres.

Namun, kembung saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami IBS. Diagnosis tetap membutuhkan penilaian tenaga kesehatan.

6. Gangguan pencernaan lainnya

Kembung juga dapat muncul bersama gangguan pencernaan lain. NIDDK mencantumkan beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan gejala gas, termasuk penyakit celiac, gastroesophageal reflux disease (GERD), gastroparesis, sembelit, dan beberapa gangguan lain pada saluran pencernaan.

Karena penyebabnya cukup beragam, kembung yang menetap tidak selalu tepat ditangani hanya dengan menghindari satu jenis makanan.

7. Perubahan hormon

Pada sebagian orang, perubahan hormon juga dapat berhubungan dengan rasa kembung.

Cleveland Clinic mencatat bahwa kembung dapat terjadi selama menstruasi, kehamilan, maupun masa perimenopause. Perubahan hormon dapat memengaruhi retensi cairan dan pergerakan saluran pencernaan.

Karena itu, jika kembung muncul secara berulang pada periode tertentu, waktunya dapat dicatat untuk melihat apakah terdapat pola.

Bagaimana cara mengurangi perut kembung?

Langkah yang dilakukan tentu bergantung pada penyebabnya. Namun, beberapa kebiasaan dapat membantu mengurangi masuknya udara dan gejala gas.

Makan lebih perlahan, mengurangi minuman berkarbonasi, tidak terlalu sering mengunyah permen karet, serta memperhatikan makanan yang memicu keluhan dapat menjadi langkah awal.

Aktivitas fisik juga dapat membantu pergerakan isi saluran pencernaan. Cleveland Clinic menyebut aktivitas seperti berjalan sebagai salah satu cara yang dapat membantu pergerakan gas di saluran pencernaan.

Jika kembung berkaitan dengan makanan tertentu, mencatat makanan dan waktu munculnya gejala dapat membantu menemukan pemicunya. NIDDK juga menyebutkan bahwa dokter dapat menggunakan riwayat makanan dan gejala untuk membantu mencari penyebab keluhan.

Kapan perut kembung perlu diperiksakan?

Kembung yang sesekali muncul biasanya tidak perlu menjadi alasan untuk panik. Tetapi kondisi berbeda jika keluhan berlangsung terus-menerus, sering kambuh, atau disertai gejala lain.

NHS menyarankan pemeriksaan medis jika seseorang sering mengalami kembung, kembung tidak membaik setelah perubahan pola makan, atau mengalami kembung bersama penurunan berat badan yang tidak disengaja maupun darah pada tinja.

Perhatian lebih lanjut diperlukan jika kembung disertai nyeri perut yang berat atau tiba-tiba, muntah darah, kesulitan bernapas, demam, muntah, atau tidak dapat buang air besar maupun buang gas. Dalam kondisi seperti itu, pertolongan medis segera diperlukan.

Kesimpulan

Perut kembung dapat terjadi karena hal sederhana seperti menelan terlalu banyak udara atau mengonsumsi makanan tertentu. Sembelit, intoleransi makanan, IBS, perubahan hormon, dan gangguan pencernaan tertentu juga dapat menjadi penyebab.

Yang penting, perhatikan pola kemunculannya. Kapan kembung terjadi, makanan apa yang dikonsumsi sebelumnya, serta apakah ada gejala lain yang menyertai dapat memberikan petunjuk mengenai penyebabnya.

Jika kembung terus berulang atau disertai gejala yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis menjadi langkah yang lebih tepat daripada terus menebak penyebabnya sendiri.

Sumber

  • National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) – Symptoms & Causes of Gas in the Digestive Tract 

  • NIDDK – Definition & Facts for Gas in the Digestive Tract 

  • NIDDK – Eating, Diet & Nutrition for Gas

  • NHS – Bloating 

  • Cleveland Clinic – Bloated Stomach

  • Mayo Clinic – Irritable Bowel Syndrome