Beranda › Teknologi › Mengenal Perbedaan IaaS, PaaS, dan SaaS Beserta Contohnya

Mengenal Perbedaan IaaS, PaaS, dan SaaS Beserta Contohnya

Tim Redaksi
Disusun oleh
Zulhadi
-
Mengenal Perbedaan IaaS, PaaS, dan SaaS Beserta Contohnya
Data Center Cloud

Pernah bingung saat mau langganan layanan cloud, kok ada yang namanya IaaS, PaaS, dan SaaS? Rasanya mirip semua, tapi harganya beda jauh dan fungsinya juga beda.

Kalau kamu lagi membangun website, aplikasi, atau sekadar pakai aplikasi kerja harian, kamu sebenarnya sudah bersentuhan dengan ketiganya. Cuma memang istilahnya bikin pusing di awal.

Yuk kita bedah pelan-pelan dengan bahasa yang ringan. Tanpa teori berat.

Sebenarnya Apa Itu Cloud Service Model?

Sebelum masuk ke IaaS, PaaS, SaaS, kita mundur sedikit.

Dulu, kalau mau punya server, perusahaan harus beli hardware sendiri, pasang di ruang server, bayar listrik, AC, dan tim IT untuk merawatnya. Itu disebut on-premise.

Di cloud, semua itu disewakan. Kamu tinggal pakai lewat internet dan bayar sesuai pemakaian. Dikutip dari ibm.com, perbedaan utama cloud dan IT tradisional adalah di cara konsumsinya, provider yang memiliki dan merawat aset, kamu tinggal pakai dengan koneksi internet dengan sistem langganan atau pay-as-you-go.

Nah, seberapa banyak yang kamu sewa, itu yang menentukan apakah kamu pakai IaaS, PaaS, atau SaaS. Konsep tiga model ini sendiri sudah diformalkan sejak 2011 oleh National Institute of Standards and Technology (NIST) AS.

Dilansir dari qa.com, NIST mendefinisikan tiga model layanan standar: Infrastructure as a Service (IaaS), Platform as a Service (PaaS), dan Software as a Service (SaaS).

Bayangkan seperti ini: IaaS itu sewa tanah dan bahan bangunan, PaaS itu sewa rumah yang setengah jadi tinggal kamu finishing, SaaS itu kamu langsung sewa rumah yang sudah siap huni.

1. IaaS - Infrastructure as a Service

Ini lapisan paling dasar.

Dikutip dari ibm.com, IaaS adalah bentuk cloud computing yang memberikan akses on-demand ke komputasi, storage, dan networking yang di-host di data center provider.

Kamu tidak mengelola fisik servernya. Tapi kamu masih mengelola sistem operasi, aplikasi, dan datanya sendiri. Provider yang urus hardware, jaringan, dan virtualisasinya.

Kapan kamu butuh IaaS?

Kalau kamu butuh kontrol penuh. Misalnya startup yang traffic-nya naik turun drastis, atau perusahaan yang mau migrasi data center tanpa beli server baru.

Contoh IaaS yang paling sering dipakai:

  • Amazon Web Services (AWS) EC2
  • Google Compute Engine (GCE)
  • Microsoft Azure Virtual Machine
  • DigitalOcean, Linode, IBM Cloud

Dilansir dari leanix.net, IaaS memungkinkan organisasi membeli resource seperti networking dan storage secara on-demand, bukan membeli hardware mahal di awal. Jadi sangat fleksibel dan bisa di-scale up kapan saja.

Kelebihannya: super fleksibel, kamu bayar cuma yang dipakai, dan bisa otomasi lewat API. Kekurangannya: kamu tetap harus patching OS, jaga keamanan, dan butuh tim yang paham infrastruktur.

2. PaaS - Platform as a Service

Kalau IaaS itu sewa lahan, PaaS itu sewa lahan plus alat tukang lengkap.

Dikutip dari ibm.com, PaaS menyediakan platform cloud lengkap untuk mengembangkan, men-deploy, dan menjalankan aplikasi. Provider yang host server, jaringan, storage, OS, database, sampai tools development-nya.

Kamu sebagai developer tinggal fokus nulis kode. Tidak pusing mikirin update OS atau setting server.

Dilansir dari qa.com, definisi NIST untuk PaaS adalah kemampuan untuk men-deploy aplikasi buatan konsumen ke infrastruktur cloud menggunakan bahasa pemrograman, library, dan tools yang didukung provider.

Kapan kamu butuh PaaS?

Kalau kamu punya tim developer yang ingin cepat meluncurkan aplikasi tanpa urus infrastruktur. Cocok untuk kolaborasi tim yang tersebar di berbagai kota.

Contoh PaaS yang populer:

  • Google App Engine
  • Heroku
  • AWS Elastic Beanstalk
  • Microsoft Azure App Service
  • OpenShift

Kelebihannya: development jauh lebih cepat, biaya lebih hemat untuk launch awal, dan tidak butuh banyak coding untuk setup. Kekurangannya: ada potensi vendor lock-in. Kalau aplikasi kamu sudah terlanjur kompleks di satu platform, pindah ke provider lain bisa repot.

3. SaaS - Software as a Service

Ini yang paling sering kamu pakai sehari-hari, bahkan tanpa sadar.

Dikutip dari ibm.com, SaaS adalah software yang di-host di cloud dan dikirim lewat internet ke perangkat komputasi. Provider yang mengoperasikan, mengelola, dan memelihara software dan infrastrukturnya.

Kamu tidak install apa pun. Tinggal buka browser, login, langsung pakai.

Dilansir dari qa.com, NIST mendefinisikan SaaS sebagai kemampuan yang diberikan kepada konsumen untuk menggunakan aplikasi provider yang berjalan di infrastruktur cloud. Aplikasi bisa diakses dari berbagai perangkat lewat browser.

Contoh SaaS yang pasti kamu kenal:

  • Gmail, Google Workspace
  • Microsoft 365, Microsoft Office 365
  • Dropbox, Slack, Zoom
  • Salesforce, HubSpot, Canva, Netflix

Dikutip dari leanix.net, SaaS sebenarnya sudah ada bahkan sebelum migrasi cloud besar-besaran, contohnya layanan email berbasis web seperti Outlook atau Gmail.

Kelebihannya: langsung pakai, tidak perlu instalasi, update otomatis, dan biasanya ada opsi coba gratis. Kekurangannya: kustomisasi sangat terbatas dan kamu tidak punya kontrol penuh atas data dan performa.

Jadi, Apa Beda Utamanya?

Ini rangkuman paling gampang untuk mengingatnya:

Level Kontrol:

IaaS = kontrol paling tinggi, kamu urus semuanya di atas infrastruktur.
PaaS = kontrol menengah, provider urus platform, kamu urus aplikasi.
SaaS = kontrol paling rendah, kamu cuma pakai.

Siapa Penggunanya:

IaaS untuk System Admin dan Network Architect.
PaaS untuk Developer dan DevOps.
SaaS untuk end-user atau karyawan biasa.

Analogi Pizza yang Sering Dipakai:

  • On-premise: kamu tanam gandum, buat adonan, panggang sendiri.
  • IaaS: kamu beli adonan jadi, topping kamu yang atur.
  • PaaS: kamu pesan pizza yang sudah diantar ke rumah, tinggal panggang dan tambah topping.
  • SaaS: kamu pesan pizza siap makan, tinggal makan.

Dengan paham perbedaan ini, kamu jadi tidak salah pilih. Tidak semua bisnis butuh IaaS yang rumit. Kalau cuma butuh aplikasi akuntansi, SaaS seperti QuickBooks sudah cukup. Kalau mau bikin aplikasi unik untuk HR, PaaS lebih masuk akal. Kalau mau kontrol total untuk website e-commerce skala besar, baru ambil IaaS.

Pada akhirnya, ketiganya bukan untuk saling berlawanan. Banyak perusahaan pakai ketiganya sekaligus untuk kebutuhan yang berbeda. Yang penting kamu paham: mau sewa seberapa banyak?

Referensi

  1. IBM — IaaS, PaaS, SaaS: What's the difference?
    https://www.ibm.com/think/topics/iaas-paas-saas
  2. QA — What are IaaS, PaaS and SaaS? The key differences
    https://www.qa.com/resources/blog/what-are-iaas-paas-and-saas
  3. LeanIX — IaaS vs PaaS vs SaaS – Differences, Examples and Diagram
    https://www.leanix.net/en/wiki/apm/iaas-vs-paas-vs-saas
  4. IEEE Computer Society — What is Cloud? It is time to update the NIST definition?
    https://www.computer.org/csdl/magazine/co/2022/04/09760203/1s44KkDqMpy