Beranda › Teknologi › Cloud Storage vs Harddisk Fisik: Mana yang Lebih Aman untuk Backup Data?

Cloud Storage vs Harddisk Fisik: Mana yang Lebih Aman untuk Backup Data?

Tim Redaksi
Disusun oleh
Zulhadi
-
Cloud Storage vs Harddisk Fisik: Mana yang Lebih Aman untuk Backup Data?

Pernah nggak kamu panik karena harddisk eksternal tiba-tiba tidak terbaca? Di dalamnya ada foto keluarga, file skripsi, atau data kerja bertahun-tahun. Rasanya nyesek banget.

Atau sebaliknya, kamu sudah pindahkan semua file ke Google Drive, tapi jadi was-was: kalau akun Google saya di-hack, hilang semua dong?

Dilema ini hampir dialami semua orang. Di satu sisi harddisk fisik terasa nyata, bisa dipegang. Di sisi lain cloud storage terasa praktis. Tapi kalau ngomongin soal aman untuk backup, mana sebenarnya yang lebih unggul?

Jawabannya tidak sesimpel pilih satu. Mari kita bongkar jujur-jujuran.

Cloud Storage Itu Seperti Brankas di Banyak Gedung

Bayangkan kamu titip emas. Kalau kamu titip di satu lemari di rumah, kalau rumah kebanjiran atau kemalingan, habis sudah. Tapi kalau emas itu disimpan di brankas bank yang punya cabang di banyak kota, dengan penjaga dan duplikat kunci di banyak lokasi, risikonya jauh lebih kecil.

Itulah prinsip cloud.

Dikutip dari proton.me, cloud storage memungkinkan kamu menyimpan file lewat internet di server yang dioperasikan provider. Perusahaan biasanya membuat salinan backup file kamu di beberapa data center dan mengamankannya menggunakan enkripsi yang canggih.

Dilansir dari datarecovery.com, layanan cloud besar seperti Google dan Dropbox mengoperasikan server raksasa dengan lapisan redundansi, jadi dari sudut pandang media tidak ada single point of failure, dan kehilangan data hampir mustahil. Google bahkan mengklaim menawarkan durabilitas data 99,999999999%.

Artinya file kamu tidak disimpan di satu harddisk saja. File kamu dipecah, dienkripsi, dan disebar ke beberapa server di negara berbeda. Kalau satu server mati, masih ada salinannya di server lain.

Kelebihan lainnya adalah sinkronisasi otomatis. Dikutip dari tomsguide.com, salah satu keunggulan terbesar cloud storage adalah kamu bisa menjaga file tetap ter-backup sepanjang waktu berkat teknologi sync yang berjalan di background dan otomatis mengupload file baru atau yang dimodifikasi.

Kamu tidak perlu ingat colok harddisk setiap minggu.

Harddisk Fisik Itu Seperti Lemari Besi Pribadi di Rumah

Sekarang harddisk eksternal.

Ini kebalikannya. Kamu punya kontrol total. Tidak perlu internet, tidak ada biaya bulanan, dan kamu yang pegang fisiknya.

Dikutip dari proton.me, dengan physical storage kamu tidak perlu koneksi internet. Ini menawarkan kenyamanan dan manfaat keamanan karena file kamu tidak perlu dilindungi saat transit dan saat disimpan di server pihak ketiga. Kamu membayar sekali di depan untuk hardware-nya.

Dan dari sisi privasi, ini juara. Dikutip dari proton.me juga, jika kamu tidak ingin orang lain memiliki file kamu, terenkripsi atau tidak, maka physical storage menawarkan privasi paling tinggi. Namun physical storage memiliki risiko keamanan lain, seperti kehilangan perangkat.

Masalahnya adalah umur. Semua media fisik pasti akan rusak.

Dilansir dari tomsguide.com, lebih dari seperempat dari semua hard disk drive modern gagal sebelum akhir masa garansinya. Ketika itu terjadi, biayanya bisa mahal atau mustahil untuk memulihkan data kamu.

Belum lagi risiko yang tidak terduga: jatuh, kena air, kebakaran, atau sekadar lupa menaruhnya di mana. Dikutip dari proton.me, memiliki penyimpanan fisik berarti kamu mengambil alih tanggung jawab itu sendiri. Pencurian dan kerusakan perangkat karena overheat, api, dan lain-lain adalah kekhawatiran serius.

Dan satu lagi: kalau backup harddisk kamu simpan di ruangan yang sama dengan laptop utama, kalau bencana alam terjadi, hilang dua-duanya. Prinsip backup yang benar harus punya salinan off-site.

Adu Keamanan: Siapa Lebih Aman?

Kalau kita bicara aman dari peretasan, harddisk fisik memang lebih aman karena offline. Hacker tidak bisa bobol harddisk yang tidak colok ke komputer.

Tapi kalau bicara aman dari kehilangan permanen, cloud jauh lebih unggul.

Dikutip dari tomsguide.com, banyak sistem cloud aman sekarang menggunakan enkripsi 256-bit AES yang hampir tidak bisa dipecahkan untuk melindungi data kamu bahkan sebelum meninggalkan perangkat kamu. Beberapa layanan bahkan menawarkan zero-knowledge encryption, artinya hanya kamu yang tahu kunci enkripsinya.

Artinya bahkan jika hacker mencuri file kamu dari server cloud, yang mereka dapat hanya file acak yang tidak bisa dibuka.

Sementara di harddisk, kalau hilang dicuri dan tidak kamu enkripsi, orang bisa langsung buka isinya.

Ada juga risiko human error. Dilansir dari datarecovery.com, jika backup cloud kamu beroperasi secara otomatis, itu mungkin rentan terhadap kehilangan data logis. Misalnya jika komputer kamu terinfeksi virus atau kamu tidak sengaja menghapus file, perubahan yang tidak diinginkan itu mungkin tercermin di backup.

Ini benar. Karena sync itu dua arah. Kamu hapus di laptop, ikut terhapus di cloud kalau tidak ada versioning. Untungnya, layanan modern seperti Google Drive, Dropbox, dan Proton Drive punya fitur version history. Dikutip dari proton.me, Proton Drive menawarkan version history, sehingga kamu bisa menyimpan versi file sebelumnya hingga 10 tahun. Ini membantu memulihkan data bahkan jika file telah diubah, dicuri, atau dihancurkan oleh malware.

Jadi, Mana yang Harus Dipilih?

Jawaban paling jujur dari para ahli recovery data: jangan pilih satu, pakai keduanya. Ini yang disebut strategi 3-2-1.

Dilansir dari datarecovery.com, cara paling aman untuk melindungi data kamu adalah menyimpan salinan sekunder file kamu di perangkat lokal seperti external hard drive dan menyimpan salinan ketiga di layanan backup cloud.

Praktiknya begini:

1. Untuk data yang aktif dan butuh akses cepat: pakai Cloud.

File kerja harian, dokumen kolaborasi, foto HP. Aktifkan 2FA, gunakan password manager, dan pilih provider yang punya enkripsi end-to-end. Ini mengurangi risiko lupa backup.

2. Untuk arsip besar dan jarang berubah: pakai Harddisk Fisik.

Video pernikahan, arsip proyek 5 tahun lalu. Beli 2 harddisk, enkripsi dengan BitLocker atau VeraCrypt, simpan satu di rumah dan satu di rumah saudara atau di safe deposit box.

3. Untuk data super penting: pakai keduanya + immutable backup.

Banyak provider cloud sekarang menawarkan immutable storage. Dikutip dari datacenterdynamics.com, immutable storage seperti yang ditawarkan provider cloud berarti data terkunci dan tidak bisa diubah atau dihapus, yang mencegah hacker menghancurkan backup.

Dengan kombinasi ini, kamu terlindungi dari dua musuh utama backup: kegagalan hardware dan kesalahan manusia.

Cloud storage melindungi kamu dari kerusakan fisik, pencurian, dan bencana. Harddisk fisik melindungi kamu dari kebocoran akun, internet mati, dan biaya langganan yang membengkak.

Jadi, kalau ditanya mana yang lebih aman untuk backup data? Jawabannya adalah: yang paling aman adalah yang punya lebih dari satu lapis perlindungan. Jangan taruh semua telur di satu keranjang, apalagi cuma satu harddisk di meja kamu.

Referensi

  1. Dikutip dari proton.me - Artikel "Pros and cons of cloud storage vs. physical storage"
    https://proton.me/blog/tr/cloud-storage-vs-physical-storage

  2. Dilansir dari datarecovery.com - Artikel "Should I Use Cloud Storage or an External Drive for Data Backup?"
    https://datarecovery.com/rd/should-i-use-cloud-storage-or-an-external-drive-for-data-backup

  3. Dikutip dari tomsguide.com - Artikel "Cloud storage vs external hard disk drive: Which is better?"
    https://www.tomsguide.com/best-picks/cloud-storage-vs-external-hard-disk-drive-which-one-is-better

  4. Dikutip dari datacenterdynamics.com -Artikel "Busting the three biggest cloud storage myths"
    https://www.datacenterdynamics.com/en/opinions/busting-the-three-biggest-cloud-storage-myths