Beranda › Teknologi › Cara Menjaga Keamanan Data Saat Menggunakan Layanan Cloud

Cara Menjaga Keamanan Data Saat Menggunakan Layanan Cloud

Tim Redaksi
Disusun oleh
Zulhadi
-
Cara Menjaga Keamanan Data Saat Menggunakan Layanan Cloud
Data Center Cloud

Pernah tidak, kamu upload file penting ke Google Drive atau Dropbox, lalu tiba-tiba kepikiran: aman nggak sih data ini? Kalau ada yang bobol akun saya gimana?

Rasa khawatir itu wajar banget. Sekarang hampir semua kerjaan kita ada di cloud. Dari foto pribadi, laporan keuangan, sampai data pelanggan. Praktis memang, bisa diakses dari mana saja. Tapi justru karena mudah diakses, risiko kebocorannya juga lebih tinggi.

Tenang, cloud itu sebenarnya tidak lebih berbahaya dari server fisik, asal kamu tahu cara menjaganya. Banyak kebocoran terjadi bukan karena cloud-nya lemah, tapi karena kita salah setting.

Yuk kita bahas langkah paling praktis yang dipakai perusahaan besar, tapi dengan bahasa santai.

1. Pahami Dulu: Keamanan Cloud Itu Tanggung Jawab Bersama

Ini kesalahan paling umum. Banyak yang mengira kalau sudah pakai AWS, Google Cloud, atau Azure, semua keamanan otomatis jadi urusan provider.

Padahal tidak.

Dikutip dari crowdstrike.com, keamanan cloud mengikuti model shared responsibility. Artinya, provider bertanggung jawab mengamankan infrastruktur cloud itu sendiri, tapi kamu tetap bertanggung jawab mengamankan data, aplikasi, dan akses di dalam cloud milikmu.

Dilansir dari microsoft.com, saat kamu pindah ke cloud, provider memang mengambil alih sebagian tanggung jawab infrastruktur, tapi menjaga dan mengamankan data, perangkat, dan identitas tetap menjadi tanggung jawab pelanggan sepenuhnya.

Jadi kalau kamu asal share link file dengan akses "anyone with the link", itu sudah bukan salah Google lagi.

2. Kunci Utama: Enkripsi Data Jangan Sampai Ketinggalan

Bayangkan enkripsi itu seperti kamu mengirim barang berharga dalam brankas yang terkunci, bukan dalam kantong plastik bening.

Dikutip dari crowdstrike.com, salah satu cara efektif melindungi data adalah mengenkripsi data tersebut. Data harus dienkripsi baik saat disimpan (at rest) maupun saat dikirim (in transit).

Dilansir dari wiz.io, untuk mencegah akses tidak sah, sangat penting untuk mengenkripsi data baik saat disimpan maupun saat ditransfer. Melalui enkripsi, data tetap rahasia bahkan jika terjadi pelanggaran.

Apa yang bisa kamu lakukan?

  • Pastikan layanan cloud kamu aktifkan enkripsi AES-256 untuk data at rest.

  • Pastikan akses website dan API pakai HTTPS/TLS 1.2 ke atas.

  • Untuk data super sensitif seperti KTP atau data pelanggan, gunakan opsi Bring Your Own Key (BYOK). Kamu yang pegang kuncinya sendiri, bukan provider.

Di layanan seperti Microsoft Azure, data sebenarnya sudah otomatis terenkripsi. Dikutip dari microsoft.com, di Microsoft Cloud data selalu dienkripsi saat at rest, in transit, dan in use dengan enkripsi 256-bit AES.

3. Perketat Pintu Masuk: MFA dan Least Privilege

Kata sandi saja sudah tidak cukup. Banyak kasus bobol akun terjadi karena password bocor di forum.

Solusinya simpel tapi ampuh: aktifkan MFA atau Multi-Factor Authentication.

Dikutip dari wiz.io, MFA menambahkan lapisan perlindungan kedua di luar password, mengurangi risiko akses tidak sah bahkan jika kredensial dikompromikan. Untuk akun kritis seperti admin, pilih faktor yang tidak mudah di-phishing seperti WebAuthN atau YubiKey.

Kedua, terapkan prinsip least privilege. Jangan beri semua karyawan akses ke semua data.

Dilansir dari microsoft.com, kontrol akses harus didasarkan pada prinsip least privilege, di mana pengguna diberikan akses minimum yang diperlukan untuk melakukan tugas mereka.

Contoh nyata: staf magang marketing tidak perlu punya akses ke database keuangan. Cukup beri akses ke folder campaign saja. Dan kalau ada karyawan resign, langsung cabut aksesnya hari itu juga.

4. Jangan Lupa Audit, Backup, dan Monitoring

Cloud itu dinamis. Hari ini setting kamu aman, besok ada anggota tim yang salah buka port firewall jadi 0.0.0.0/0 dan langsung jadi celah.

Karena itu kamu butuh 3 kebiasaan ini:

A. Audit Rutin.

Dikutip dari wiz.io, seiring lingkungan cloud tumbuh dan berubah, konfigurasi bisa menyimpang dari praktik terbaik keamanan. Audit rutin membantu mengidentifikasi dan memperbaiki perbedaan ini.

Jadwalkan audit minimal sebulan sekali. Pakai tools seperti AWS Config, Microsoft Defender for Cloud, atau Wiz untuk cek misconfigurations.

B. Backup Teratur.

Serangan ransomware di cloud juga ada. Kalau data kamu satu-satunya hanya di satu bucket S3 dan terhapus, selesai sudah.

Dilansir dari wiz.io, backup yang dijadwalkan secara teratur memastikan data dapat dipulihkan dengan gangguan minimal jika terjadi kehilangan data, baik karena penghapusan tidak sengaja, serangan siber, atau gangguan sistem lainnya.

Simpan backup di lokasi geografis berbeda. Dan jangan lupa tes proses restore-nya, jangan hanya backup saja.

C. Monitoring Aktivitas.

Kamu harus tahu siapa akses apa, kapan, dari mana. Kalau ada login jam 2 pagi dari negara yang tidak pernah dipakai tim kamu, sistem harus langsung kasih alert.

Dikutip dari crowdstrike.com, visibilitas terpadu dan pemantauan cerdas berkelanjutan dari semua resource cloud sangat penting dalam solusi keamanan cloud untuk mendeteksi misconfiguration dan ancaman.

5. Amankan API dan Edukasi Tim

Banyak aplikasi modern saling terhubung lewat API. API ini seperti pintu belakang. Kalau tidak diamankan, penyerang bisa masuk lewat situ.

Dikutip dari microsoft.com, API digunakan untuk mengakses layanan cloud dan bisa rentan terhadap serangan jika tidak diamankan dengan benar. API yang aman harus diimplementasikan dengan autentikasi yang kuat dan enkripsi.

Gunakan autentikasi token, batasi rate limit, dan validasi semua input data.

Dan yang terakhir, yang sering dilupakan: edukasi karyawan.

Dilansir dari microsoft.com, pastikan karyawan kamu menyadari risiko keamanan yang terkait dengan penyimpanan data di layanan cloud dan dilatih tentang praktik terbaik untuk mengamankan data.

Sehebat apa pun teknologinya, kalau ada satu karyawan yang klik link phishing dan kasih password cloud, semua bisa jebol. Buat simulasi phishing minimal 3 bulan sekali.

Pada akhirnya, menjaga keamanan data di cloud bukan soal beli tools paling mahal. Tapi soal disiplin menjalankan hal dasar: pahami tanggung jawabmu, enkripsi data, kunci akses dengan MFA, audit dan backup rutin, serta jangan anggap remeh faktor manusia.

Kalau itu kamu lakukan, kamu bisa menikmati semua enaknya cloud tanpa was-was data bocor.

Sumber

  1. Dikutip dari crowdstrike.com — Artikel "What is Cloud Data Security? Risks & Best Practices"
    https://www.crowdstrike.com/en-gb/cybersecurity-101/cloud-security/cloud-data-security

  2. Dilansir dari microsoft.com — Artikel "11 best practices for securing data in the cloud"
    https://www.microsoft.com/en-us/security/blog/2023/07/05/11-best-practices-for-securing-data-in-cloud-services

  3. Dikutip dari wiz.io — Artikel "Cloud Security Best Practices: 22 Steps for 2026"
    https://www.wiz.io/academy/cloud-security/cloud-security-best-practices