![]() |
| Multitasking : Kebaikan dan Keburukannya |
Di era digital, multitasking telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasa lebih produktif karena mampu membalas pesan, menghadiri rapat daring, sekaligus mengerjakan laporan dalam waktu yang sama. Namun, berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa manfaat multitasking tidak selalu sebesar yang dibayangkan.
Sebuah meta-analisis yang meninjau 49 penelitian mengenai multitasking menemukan bahwa kebiasaan ini cenderung memberikan dampak negatif terhadap kemampuan kognitif, seperti konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan memahami informasi. Meski demikian, pada situasi tertentu multitasking dapat memberikan manfaat, terutama ketika tugas yang dilakukan bersifat sederhana atau salah satunya sudah menjadi kebiasaan otomatis.
Kebaikan Multitasking
Meski sering dikritik, multitasking tetap memiliki sejumlah keuntungan apabila dilakukan dalam kondisi yang tepat.
1. Menghemat waktu pada pekerjaan sederhana
Melakukan dua aktivitas ringan secara bersamaan, misalnya mendengarkan podcast sambil berolahraga atau menyortir dokumen sambil mendengarkan musik, dapat membuat waktu terasa lebih efisien karena kedua aktivitas tidak saling mengganggu.
2. Meningkatkan fleksibilitas kerja
Di lingkungan kerja modern, seseorang sering dituntut mampu berpindah dari satu tugas ke tugas lain dengan cepat. Kemampuan ini membantu menghadapi situasi yang dinamis, terutama ketika harus merespons berbagai kebutuhan secara bersamaan.
3. Bermanfaat jika salah satu tugas sudah otomatis
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa otak dapat melakukan dua aktivitas sekaligus dengan lebih baik apabila salah satu aktivitas telah menjadi kebiasaan dan tidak lagi membutuhkan perhatian penuh, misalnya berjalan sambil berbicara atau mengemudi di jalur yang sudah sangat familiar.
Keburukan Multitasking
Di balik manfaat tersebut, para peneliti menegaskan bahwa multitasking pada pekerjaan yang sama-sama membutuhkan konsentrasi tinggi justru menimbulkan berbagai dampak negatif.
1. Menurunkan fokus
Otak sebenarnya tidak mengerjakan dua pekerjaan berat secara bersamaan, melainkan berpindah-pindah fokus dengan sangat cepat (task switching). Proses perpindahan ini membutuhkan energi mental sehingga konsentrasi menjadi lebih mudah terganggu.
2. Meningkatkan risiko kesalahan
Semakin sering seseorang berpindah perhatian antara satu pekerjaan dan pekerjaan lain, semakin besar kemungkinan terjadi kesalahan. Hal ini terutama berlaku pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, seperti menulis laporan, menganalisis data, atau mengambil keputusan penting.
3. Memperlambat penyelesaian pekerjaan
Walaupun terlihat sibuk, multitasking sering kali membuat pekerjaan selesai lebih lama karena otak membutuhkan waktu untuk kembali memahami konteks setiap kali berganti tugas.
4. Menyebabkan kelelahan mental
Perpindahan fokus yang terus-menerus meningkatkan beban kerja otak sehingga seseorang lebih cepat merasa lelah, stres, dan sulit mempertahankan perhatian dalam jangka panjang.
Kapan Multitasking Masih Layak Dilakukan?
Para ahli menyarankan multitasking hanya dilakukan apabila:
- Salah satu aktivitas bersifat otomatis atau rutin.
- Kedua aktivitas tidak menggunakan kemampuan berpikir yang sama.
- Tidak sedang mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan analisis mendalam atau kreativitas tinggi.
Sebaliknya, untuk pekerjaan seperti belajar, menyusun laporan, membuat keputusan, atau menyelesaikan proyek penting, metode single-tasking atau fokus pada satu pekerjaan dinilai lebih efektif.
Kesimpulan
Multitasking bukan sepenuhnya buruk maupun baik. Kebiasaan ini dapat membantu meningkatkan efisiensi jika dilakukan pada aktivitas sederhana yang tidak saling mengganggu. Namun, ketika diterapkan pada dua pekerjaan yang sama-sama membutuhkan konsentrasi tinggi, multitasking justru menurunkan fokus, meningkatkan kesalahan, dan membuat pekerjaan selesai lebih lama. Oleh karena itu, banyak peneliti menyarankan agar pekerjaan yang membutuhkan pemikiran mendalam diselesaikan satu per satu untuk memperoleh hasil yang lebih optimal.
