Proses penarikan diri ini mencapai titik final pada hari Kamis, 22 Januari 2026. Keputusan ini merupakan tindak lanjut dari perintah eksekutif yang telah ditandatangani satu tahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 20 Januari 2025. Berdasarkan konstitusi hubungan internasional, diperlukan masa transisi selama 12 bulan bagi sebuah negara anggota untuk benar-benar lepas dari kewajiban dan haknya di dalam badan kesehatan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut.
Alasan Di Balik Keputusan Ekstrem Washington
Dilansir dari dokumen resmi Departemen Luar Negeri AS, terdapat tiga poin krusial yang melandasi keputusan ini. Pertama, kegagalan fatal dan lambatnya respons WHO dalam menangani fase awal penyebaran pandemi virus beberapa tahun lalu. Kedua, masalah transparansi internal yang dinilai sangat buruk. Ketiga, keengganan pihak manajemen WHO untuk mengadopsi reformasi struktural yang diajukan oleh negara-negara donor utama.
Menteri Kesehatan Amerika Serikat, Robert F. Kennedy Jr., dalam konferensi pers resminya memberikan pernyataan tegas mengenai sikap negaranya.
"Kami tidak dapat terus menyetor miliaran dolar uang pajak dari warga negara kami ke dalam sebuah organisasi yang menolak untuk bersikap transparan, gagal bersikap independen dari tekanan politik luar, dan tidak mampu melindungi keamanan medis global saat krisis melanda," ujar Robert F. Kennedy Jr. pada Kamis, 22 Januari 2026.
Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menambahkan bahwa Washington memilih untuk memprioritaskan anggaran kesehatan mereka melalui mekanisme aliansi baru yang lebih akuntabel. Menurut Rubio, sistem yang ada saat ini sudah tidak dapat dipertahankan tanpa adanya perombakan total secara menyeluruh pada birokrasi internal badan PBB tersebut.
Langkah Nyata Pemutusan Hubungan Diplomatik
Pertama, pemerintah federal AS telah menghentikan total seluruh kucuran dana, baik dana kontribusi wajib tahunan maupun dana sukarela yang biasanya dialokasikan untuk proyek riset spesifik. Kedua, ratusan personel ahli, termasuk dokter, epidemiolog, kontraktor teknis, dan ilmuwan yang berasal dari institusi kesehatan AS seperti CDC (Centers for Disease Control and Prevention) yang selama ini ditempatkan di kantor-kantor WHO, kini telah ditarik pulang secara massal ke Washington.
Ketiga, delegasi Amerika Serikat dipastikan berhenti berpartisipasi dalam setiap komite resmi, badan kepemimpinan, rapat majelis kesehatan dunia (World Health Assembly), hingga kelompok kerja teknis terkecil yang disponsori oleh organisasi tersebut. Hubungan formal yang tersisa saat ini hanyalah urusan penyelesaian korespondensi administratif terkait sisa aset dan logistik pasca-keluar.
Polemik Utang Iuran dan Bantahan Lembaga Dunia
Dikutip dari siaran pers resmi badan kesehatan dunia tersebut, pihak manajemen menyatakan penyesalan mendalam karena tindakan pengunduran diri ini dinilai akan membuat lanskap keamanan kesehatan dunia menjadi jauh lebih rapuh. Pihak lembaga juga membantah keras tuduhan yang menyatakan bahwa mereka tidak independen dan menegaskan bahwa seluruh langkah penanganan krisis yang diambil selama ini selalu didasarkan pada data sains murni yang objektif.
Di samping perdebatan mengenai kinerja, muncul konflik finansial baru terkait kewajiban yang belum diselesaikan. Pihak organisasi mencatat bahwa Amerika Serikat masih menyisakan tunggakan finansial berupa utang iuran wajib untuk tahun anggaran 2024 dan 2025 dengan total nilai mencapai 278 juta dolar AS.
Namun, tuntutan pembayaran utang tersebut langsung ditolak oleh perwakilan diplomatik Washington. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menegaskan bahwa mereka tidak akan membayar sepeser pun dari nominal tunggakan yang diklaim tersebut. Pihak AS beralasan bahwa kerugian ekonomi, sosial, dan kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat domestik akibat keterlambatan respons lembaga medis dunia tersebut dalam mendeteksi wabah global jauh lebih besar nilainya dibandingkan klaim utang iuran tersebut.
Dampak Fatal bagi Keamanan Medis Global
Para pakar epidemiologi dari berbagai universitas terkemuka dunia memperingatkan bahwa hilangnya porsi dana ini mengancam keberlangsungan program jangka panjang, seperti:
Program pemusnahan total penyakit polio di wilayah Asia Selatan dan Afrika.
Pengadaan serta distribusi vaksin subsidi untuk anak-anak di wilayah konflik.
Pendanaan tim respons cepat untuk melacak mutasi virus baru yang berpotensi memicu pandemi.
Selain sektor finansial, dampak teknis yang tidak kalah berbahaya adalah potensi terhambatnya sistem peringatan dini penyakit. Akibat pemutusan hubungan ini, para ilmuwan dan peneliti medis terkemuka di Amerika Serikat terancam kehilangan akses masuk langsung ke dalam jaringan pemantauan virus global. Salah satu yang paling krusial adalah Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS), sebuah jaringan global yang sangat vital untuk mendeteksi varian flu baru dan merumuskan komposisi vaksin flu tahunan yang digunakan di seluruh dunia.
Di sisi lain, pengamat politik internasional menilai perpindahan ini akan memicu pergeseran geopolitik yang signifikan. Kekosongan kursi kepemimpinan dan pengaruh yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat dipastikan akan membuka celah besar bagi kekuatan adidaya kompetitor, seperti Republik Rakyat China (RRC) dan Uni Eropa, untuk memperkuat pengaruh dominasi mereka dalam mengarahkan kebijakan serta regulasi kesehatan internasional di masa depan.
Sebagai langkah alternatif pasca-keluar, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana peluncuran program kesehatan global mandiri yang dinamakan America First Global Health. Lewat skema baru ini, bantuan medis dan pembiayaan riset dari Washington tidak akan lagi disalurkan melalui lembaga multilateral, melainkan dikirimkan langsung secara bilateral kepada negara-negara mitra yang dinilai memiliki transparansi tinggi dan memiliki keselarasan visi strategis dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.
